Brigade Penolong Kwarcab Kota Madiun Siap Jadi Relawan Covid-19

Rupanya, memakai baju hazmat dan pelengkap lainnya tak semudah yang dibayangkan.Gerah dan sedikit sulit bernapas. Itulah pengalaman yang dirasakan oleh Angga Setyawan saat mengenakan alat pelindung diri (APD) level 3 selama 15 menit.

‘’Kami yang baru pakai sebentar saja sudah panas, apalagi tenaga medis yang harus memakainya seharian,’’ jawabnya saat ditanyai perasaannya menggunakan APD level 3 untuk pertama kali.

Angga merupakan salah satu anggota Tim Operasi dan Latihan Brigade Penolong 13.36 Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Madiun. Senin (25/1), dia bersama anggota lainnya mengikuti pelatihan khusus di Bumi Perkemahan Ngrowo Bening.

Saat ini, Brigade Penolong 13.36 Kwarcab Kota Madiun memang dipersiapkan sebagai relawan Covid-19. Yakni, untuk membantu pekerjaan non medis para tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan maupun ruang isolasi pasien. Untuk itu, mereka wajib memahami tata cara penggunaan APD level 3 sebagai pelindung ketika bertugas di area isolasi pasien Covid-19.

Angga mengatakan, pelatihan dilakukan agar para anggota Brigade Penolong selalu siap sedia ketika dibutuhkan. Apalagi, saat ini jumlah tenaga medis dan kesehatan di Kota Madiun semakin terbatas. ‘’Sewaktu-waktu dibutuhkan, kami siap,’’ tegasnya.

Kesiapsiagaan juga ditunjukkan oleh Heni Zubaidah. Bahkan, mahasiswa Universitas PGRI Kota Madiun ini sudah mengantongi izin dari kedua orang tua. ‘’Takut pasti ada. Tapi, sebagai anggota Pramuka memang harus siap membantu masyarakat karena itu sudah tugas kami,’’ imbuhnya.

Sementara itu, anggota Pracana Pangeran Timur Retno Dumilah Unipma Defit Prasetyo menjelaskan bahwa Brigade Penolong merupakan unit terampil di Kwarcab Kota Madiun yang sebelumnya telah menjalani diklat dasar untuk membantu dalam keadaan darurat dan kebencanaan.

‘’Menjadi relawan Covid-19 ini akan menjadi pengalaman baru bagi kami, sekaligus pengalaman berharga untuk mengabdi kepada masyarakat,’’ ujarnya.

Total ada 30 anggota Brigade Penolong 13.36 Kwarcab Kota Madiun yang mengikuti pelatihan tersebut. Ditambah 20 orang pembina dan pelatih tingkat TK, SD, SMP, dan SMA. ‘’Mereka akan ditempatkan di unit-unit pelayanan kesehatan untuk membantu tugas non medis,’’ terang Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana dr. Denik Wuryani.

Denik pun berharap, keberadaan relawan Pramuka mampu meringankan pekerjaan dokter dan perawat. Khususnya, dalam menjalankan tugas non medis. ‘’Tugasnya nanti tentu tidak seberat tenaga medis. Juga, dilakukan sistem shift dan memperhatikan kebutuhan tenaga di fasilitas kesehatan,’’ tandasnya.